Mencari Hiro - KETEMU! Koneksi Sebelum Koreksi
Akhirnya sampai juga di pembahasan skill terakhir dari metode Filial Play Therapy. Hampir setahun setelah postingan yang terakhir! Ya ampun, aku sangat sangat minta maaf buat yang nungguin postingan ini.
Aku dengan sangat percaya diri bisa bilang bahwa aku menguasai skill ini dengan baik. Aku belajar setiap harinya sampai skill ini sudah tertanam di memori aku. Jadi, sekarang aku udah secara otomatis melakukannya di keseharian tanpa harus ada "Special Play Time".
Reflecting Skill: Reflect What You Hear
Istilah awamnya, ngebeo, ulangi yang dia omongin, tapi with a twist.
Saat special play time, kadang gak banyak suara keluar dari mulut anak yang lagi fokus bikin sesuatu dengan mainannya. Jadi, sabar aja dulu, sambil praktekin Reflecting Skill yang Pertama. Ketika akhirnya tiba saatnya dia cerita tentang mainannya, aku akan ulangi apa yang dia omongin tapi dengan susunan kalimat yang berbeda.
Contoh:
Bocil: Pesawat luar angkasa masuk ke blackhole!
Aku: Masuk ke blackhole ya pesawat luar angkasanya!
Dengan kebiasaan yang dibangun selama 15 menit setiap hari ini saat special play time, skill ini secara otomatis terpakai sehari-hari.
Hiro, yang seperti kebanyakan anak-anak, seneng banget ngoceh tentang segala hal, belakangan lagi suka banget minecraft. Aku, ibu-ibu yang gak paham minecraft tapi paham skill filial play, akan ngebeo soal minecraft yang dia ceritain. Aku samakan intonasi bicaraku, aku hentikan kegiatanku, aku tatap wajahnya, aku tunjukkan emosi yang sama seperti dia; curious, wondering, excited. Aku reflect dia dari segala aspek. Dari situ makin panjang ceritanya.
Di momen ini, aku sadar banget Hiro makin terbuka buat ngoceh dan cerita segala hal.
Jadi gak cuma soal game, dia juga akan ngoceh soal sekolah, teman-teman dia, perasaan dia.
Aku berhasil masuk ke dunia anakku :)
Reflecting Skill: Reflect Their Feelings
Saat terapi, coach ngasih mainan yang baru pertama kali Hiro dan aku lihat. Kebetulan mainannya Lego, tapi technical. Bukan untuk usia Hiro, tapi masih aman dicoba. Mission dia saat itu adalah pasang baterai di Lego itu. Aku dilarang bantuin, padahal aku penasaran juga.
Cukup lama Hiro bolak-balik Lego itu, sampai akhirnya keluar emosinya: frustasi.
Di sini, semua skill digabung jadi satu-- udah kayak ujian akhir aja. Aku juga udah hampir buyar fokus lihat Hiro kesulitan kayak gitu. Tapi aku coba untuk tetap tenang dan validasi perasaan dia.
Meskipun frustasi, Hiro masih penasaran utak-atik mainan itu sampai akhirnya dia nemu caranya.
Aku apresiasi dia.
Kami dapat apresiasi dari coach Andi.
![]() |
| Hiro asik main Lego remote control |
Hiro dibiarkan bermain Lego yang bisa digerakkan dengan remote control itu, sementara coach Andi me-review apa yang terjadi selama 10 menit tadi. Sungguh pengalaman yang mendebarkan tapi aku dan Hiro berhasil melewatinya.
Di sesi terakhir terapi itu, aku ditanyai skill mana yang paling susah. Tentu saja Reflecting Skill paling sulit! Lalu coach Andi kembali mengingatkan aku trik-trik tiap skill.
Sekarang, semua skill itu sudah bisa aku praktekan, namun bukan berarti aku udah jadi master ya.
Aku merasakan betul manfaat dari Flilial Play Therapy; aku jadi lebih peka dengan kebutuhan anakku, aku tau cara mengisi tangki cintaku dan mengisi tangki cinta anakku.
Sekarang, anakku sudah tidak overdependency lagi, dia sudah paham boundaries.
Sekarang, anakku sudah tidak overdependency lagi, dia sudah paham boundaries.
Sekarang, karena koneksiku dengan Hiro telah terbangun dengan baik, aku jadi lebih mudah memberi koreksi.
Aku membagikan cerita berdasarkan pengalamanku ini agar aku di masa depan bisa baca lagi dan melihat bagaimana seorang ibu bertumbuh bersama anaknya.
Semoga ceritaku bisa menginspirasi orang tua lainnya yang memiliki growth mindset untuk bisa membersamai anak dengan cara paling mudah: BERMAIN :)
![]() |
| Terima kasih Coach Andi JG dan OMDC sudah bantu aku bangun koneksi dengan anakku. |
![]() |
| Terima kasih aku, sudah mengusahakan semaksimal mungkin. |
Akhirnya, aku berhasil menemukan Hiro-ku lagi.
Tambahan:
Saat ini, sehari-hari Hiro ditemani oleh ART ku yang masih berusia 20 tahunan. Karena aku sering ngebeo di rumah, tampaknya si mbak ikutan caraku ngebeo. Aku apresiasi si mbak yang bisa ambil hati Hiro juga. Ini sangat bikin aku tenang nitipin Hiro ke si mbak. Jadi, Filial Play ini sangat direkomendasikan untuk diajarkan ke pengasuh anak (nanny/ART), ortu kita sendiri, bahkan adik/kakak kita. Karena tentu,"It takes a village to raise a child".
.jpeg)

.jpeg)

Comments
Post a Comment
Please leave your comment below. Thank you :*